AKU DENGAN BECAK TUA KU
Bekasi, dalam tahun pemilu. Hari ini seperti hari hari biasanya. Selepas azan shubuh, jalanan dibanjiri oleh mobil motor seperti halnya banjir di lantai rumahku akibat hujan. Setiap pabrik mulai keluarkan asap hitam kotor seperti halnya kepul asap tungku yang ditiup istriku agar air panas cepat mendidih. Orang orang sibuk menyiapkan dasi, tas, pulpen, sepotong roti seperti halnya aku sibuk mengelap becak tua ku, topi, seteguk kopi tanpa hidangan nasi, aku pun bersiap pergi berharap setiap tetesan keringat menjadi butir butir nasi.
Didepan mesjid menuju kantor polisi pos mangkalku. Pagi yang dingin, basah, tak urungkan niatku untuk selalu terjaga menantikan orang memakai jasa kayuhanku. Setiap kali mata ini mengantuk, aku akan selalu ingat istriku yang telah buatkan secangkir kopi pagi ini. Setiap kali badanku mulai mengigil, ku akan ingat kembali panas tungku tiupan istriku pagi ini. Setiap kali kudapatkan penumpang, ku akan ingat kembali kehangatan secangkir kopi buatan istriku demi semangkuk nasi bekal siang hari. Setiap tetes hujan menjadi saksi perjuanganku demi hidupku, istriku.
Pagi hari waktu sholat dhuha, hujan telah berhenti. Matahari tak lagi malu malu bersembunyi. Ada banyak harapan untuk dapatkan banyak penumpang. Mulai Saatnya topi tua bermotif lambang partai meredam panas mentari pagi, mulai saatnya peluh menjadi butir butir nasi. mulai saatnya banyak orang, baik itu pedagang, pak polisi, pelajar, pengendara motor, mobil hilir mudik dijalanan depan pos mangkal becakku. Mulai saatnya mataku liar, leherku aktif, senyumku mengambang, mencari dan tawarkan becakku pada setiap orang yang datang mendekat.
Akhirnya ku akan dapatkan penumpang yang ke lima hari ini. Kulihat seorang pemuda berjalan menuju warung dekat pos mangkalku. Ia terlihat kebingungan dan menanyakan sesuatu pada sang punya warung. Dari tempat duduk becakku, samar samar terdengar sang pemuda menanyakan arah kantor polres dan harga becak yang mengangkut dia kesana. Kutarik sedikit mendekat becak tua ku dan terus tatap pemuda itu dan berharap ia memakai jasaku. Sambil menantikan pemuda itu mendekatiku, ku dengar perbincangan mereka.
“ini mas teh nya”, mpok ijah, si empunya warung menyodorkan teh pesanan pemuda itu.
“ada urusan apa ke polres mas? Mau bikin SIM ya?” Mpok ijah mulai percakapan.
Yang kulihat si pemuda hanya menagnguk dan tersenyum.
“mau saya bantuin gak mas?Cuma 350ribu, langsung jadi dalam 2 jam mas, mas gak repot, ntar ada teman saya di polres yang ngurusin.”
Mpok ijah menawarkan jasa pembuatan sim secara instan, sebuah penawaran yang tak pernah lupa terlontarkan, selalu kudengar semenjak mangkal didekat sini.
Kulihat si pemuda hanya mengeleng dan tersenyum. Entah apa arti senyuman dan gelengganya, namun yang pasti setelah habis segelas air teh dan beberapa roti, ia bangkit dari duduknya, membayar jajananya pada mpok ijah dan mulai berjalan mendekatiku. Kulihat ia tersenyum dan memintaku mengantarkanya ke kantor polres. Aku pun balas senyumanya dan mulai kukayuh bacak tua ku mengantarkan tuan pemuda pada tujuan. Tidak sampai 10 menit, kami pun sampai di kantor polres, si pemuda menanyakan harga jasaku, ku hanya meminta selembar uang lima ribuan. Setelah transaksi uang selesai. Kulihat pemuda itu berjalan mendekati pos imformasi polres. Aku pun beranjak pergi dan kembali ke pos mangkal.
Selepas zhuhur, terlihat pemuda itu lagi, dengan muka masamnya dan tersirat kelelahan dimatanya. Aku pun kembali tawarkan jasa, ia pun tersenyum dan minta diantarkan ke depan jalanan raya tempat pemberhentian angkot.
“mau pulang kemana nak?”, tanyaku memecah keheningan sambil menggayuh becakku.
“ini pak, mau pulang ke pondok gede”, jawab pemuda itu
“kelas berapa nak?”tanyaku.
pertanyaan ini sering kulontarkan pada setiap anak muda yang kutemui, aku pun memperkirakan pemuda ini masih duduk dibangku sma, namun perkiraanku salah, ternyata dia mahasiswa, mungkin status mahasiswa lah yang membuatku ingin berbincang lebih denganya
“ohh, tadi gimana nak?udah dapet SIM nya?”tanyaku lagi, berharap ia bercerita panjang lebar.
“gak pak, saya disuruh datang kesini dua minggu lagi untuk tes praktek” jawabnya datar.
“kenapa gak pakai jasa calo aja nak?”,
tanyaku lagi namun kulihat pemuda itu hanya tersenyum, entah apa arti senyumanya itu.
“entahlah pak, mungkin karena saya tidak punya duit, tidak punya orang yang bantuin, atau mungkin karena saya rakyat kecil, jadi yah, semua tawaran mereka saya tolak, mulai dari ibu ibu warung yang katanya ada temanya yang bisa bantuin, terus sepanjang jalan menuju pos informasi polisi saya ditawarkan sim oleh banyak calo, sesampai di pos polisi pun, saya kaget, polisi disana menawarkan jasa pembuatan sim instan, cepat jadi, tanpa repot repot dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar calo.”
pemuda ini mulai becerita keluh kesah, akupun hanya tersenyum mendengarkan.
“saya kaget aja pak, polisi pun bermain, belum lagi waktu saya tes kesehatan dengan harga 22rbu, eh, saya lihat ada unsur kesengajaan untuk tidak menyediakan uang kembalian, maka saya disuruhlah belanja sesuatu di warung depan jendela ruang kesehatan itu, eh gak taunya ibu ibu periksa kesehatan juga menawarkan sim instan, saya tolak dengan halus”
pemuda itu terus bercerita.
“sewaktu saya photocopy ktp pun, saya mulai takjub pak, harga fotocopy 5 lembar ktp tak seperti biasanya, lebih mahal. Dan lagi lagi saya ditawarkan jasa sim instan, dengan bangganya ia tunjuk salah satu polisi disampingnya yang akan ngurursin, saya hanya bisa tersenyum dan lihat papan nama diseragam polisi itu”
“tidak hanya berhenti disitu pak, mulai dari orang yang loket pendaftaran, penerima pembayaran kuitansi, karyawan pembayaran formulir, semuanya menawarkan jasa pembuatan sim instan, tidak lagi sembunyi sembunyi, tidak lagi berbisik bisik, tidak lagi diluar tapi didalam kantorpun begitu, diwaktu pemeriksaan tes teori, polisi disitu meminta saya memeriksa bersama hasil jawaban saya, dan polisi itu berkata kalau saya lulus tes teori, dan ia mengatakan kalau tes praktek biasanya jarang yang lulus, dan kembali lagi menawarkan jasa sim instan kepada saya, saya menolak, sesampai di lapangan, tempat dilangsungkanya tes praktekpun begitu, entah seperti apa penilaian yang dilakukan oleh polisi itu, saya dinyatakn tidak lulus dan disuruh kembali lagi dalam jangka waktu dua minggu, namun polisi disitu bisa membantu keluarkan sim hari itu juga dengan penambahan biaya, lagi lagi polisi ini bertindak sebagai calo, sungguh miris nasib negri ini pak, polisi yang katanya melayani masyarakat sudah menjadi benalu, pemeras masyarakat”
pemuda itu terdiam lama, aku pun terus menggayuh becakku, tidak beberapa meter lagi sampai pada tujuan.
“disini mah itu udah lumrah nak, udah biasa, sudah 40 tahun saya disini, tetap seperti itu, tidak berubah. Malah lebih parah”, selorohku disela nafas pendek yang kelelahan.
“yang lucunya pak, diwaktu saya pulang, saya kembali ditawari salah satu polisi yang jaga di pos imformasi, kebetulan saya ketemu dia lagi dikantin kantor itu, sambil membaca Koran, polisi wanita itu, dengan logat formal yang kaku, rambut pendek, dan muka keras, dia memaki berita Koran pagi itu, dia mengumpati koruptor BLBI, saya pun menceletuk yang membuat semua orang yang ada di kantin itu terdiam” si pemuda tersenyum.
“celetukan seperti apa nak?”tanyaku ingin tahu.
“yah, saya spontan nanya ke ibu itu, apakah saya wajar juga buk untuk umpati calo calo disini, sepeti halnya umpatan ibu pada koruptor dikoran itu?tanya saya pada ibu polisi itu, ibu itu hanya terdiam dan pergi dengan muka kesal”
pemuda di becakku terdiam lama, seiring berakhirnya cerita pemuda itu, kusampai tempat tujuan, pemuda itu turun dan memberikan selembar uang kertas sepuluh ribu-an
“ini pak, lebihnya ambil saja”
ia sodorkan uang itu padaku, aku hanya tersenyum dan tidak mau menerima.
“kalau saya terima uang nya nak, saya akan menjadi seperti mereka. Apa yang kamu lakukan ini adalah awal dari tingkah laku seperti calo,dan polisi itu. Jadi cukup bayarkan upah saya sepeti adanya, cukup 8ribu saja”,
kulihat pemuda itu terkejut, ia kembali tersenyum dan memberikan uang sebanyak yang aku minta.
Saat pemuda itu menjauh, kembali ku kayuh becakku menuju pos mangkal, dalam hati kuhantarkan kepergian pemuda tadi dengan sebuah harapan dan doa, semoga pemuda itu, tak peduli apa embel embelnya, tetaplah kokoh pendirian, tetaplah berusaha menjadi pemuda yang baik, tetaplah tersenyum melihat dunia, tetaplah teguh, smoga keyakinanmu tak membuat nasibmu seperti aku. Semoga kau temukan arti hidup, arti kebahagian, arti dari sebuah usaha dan keteguhan.
Aku hanya tua renta
Yang masih berani dengan gagah menatap matahari
dibalik gedung gedung tinggi
aku hanya tua renta
Yang tertawakan bisingnya mesin kendaraan, pabrik, keluhan, umpatan, rayuan dunia pada negeri ini
Ku cuma bisa diam dalam doa
Kuatkan aku tuhan hadapi hidup
Dalam keteguhan, kegigihan, kesabaran, arungi hidup di dunia dengan becakku
Berharap di kehidupan lain aku mendapat keberuntungan dari MU
Kenikmatan yang kau janjikan tuhan
Depok. Mahali. 4 mei. Buyung rantau
Usai sudah aliran cerita tertulis dalam buku tua yang dibaca anak malang di perkampungan kumuh. Catatan harian kakeknya. Sang anak menerawang di tepi gunung gunung sampah, dan menulis sebuah judul pada buku tua itu. “Aku dengan keranjang sampah.”